Banyak lagu-lagu Pink Floyd dengan lirik-lirik filosofis, tak sedikit juga yang merupakan kritik terhadap fenomena yang terjadi ketika itu.

Umumnya malam hari adalah waktu yang digunakan untuk beristirahat. Tidak ada bising kendaraan, pertengkaran tetangga, atau suara benda-benda yang saling bertabrakan. Sungguh malam menjadi waktu terbaik untuk dapat berkonsentrasi menyusun kepingan-kepingan puzzle setelah sekolah-sekolah diliburkan.

Walau telah mendapatkan kembali konsentrasi, nyatanya menulis tidak pernah gampang untuk dilakukan. Apalagi saat sedang menikmati waktu terbaik tersebut, tiba-tiba kamu kehilangan keinginan untuk melakukan segala hal, termasuk menulis. Pun dengan sekedar membuka media sosial, rasanya hanya ingin berbaring tetapi tidak sanggup terlelap.

Segelas susu hangat tidak mampu menghantarkan menuju alam mimpi. Kata orang, itu sering terjadi karena otak sudah kadung melakukan aktivitas-aktivitas bawah tanah. Akibatnya, ritme sirkadian mulai berantakan.

Antara pekat kabut ketidakjelasan tersebut, untungnya masih terselip secarik keinginan yang begitu remeh: Mendengar Pink Floyd.

Entah kapan terakhir kali aku mendengar lagu-lagu band beraliran progressive rock ini. Yang pasti, malam ini kerinduanku pertama-tama harus dibayar tuntas dengan Shine on Your Crazy Diamond. Lagu tersebut masuk ke dalam album Wish You Were Here, yang sebenarnya ditujukan kepada Syd Barrett, ia adalah mantan anggota sekaligus pendiri yang keluar dari band karena kecanduan obat-obatan dan masalah kesehatan mental.

Shine on Your Crazy Diamond sendiri terbagi ke dalam dua sesi, terdapat lima bagian pada sesi pertama (I-V) dan sesi kedua ada empat bagian (VI-IX). Pembagian tersebut lantaran lagu tersebut memiliki durasi yang begitu panjang hampir mencapai setengah jam. Walau begitu, liriknya tak begitu banyak. Bahkan baru muncul pada pertengahan lagu.

gambar: amazon images

Sama seperti Shine on Your Crazy Diamond, lagu Wish You Were Here juga turut ditujukan kepada Syd Barret. Namun dalam sampul albumnya, Pink Floyd mengkritik para industri rekaman yang berlaku tak adil kepada para musisi. Mereka takut dibakar/kehilangan pekerjaan apabila menentang, sehingga lebih memilih diam dengan royalti murah.

Cerita perlawanan dan kritik terhadap pendidikan

Banyak lagu-lagu Pink Floyd dengan lirik-lirik filosofis, tak sedikit juga yang merupakan kritik terhadap fenomena yang terjadi ketika itu.

Misalnya saja dalam lagu Another Brick in the Wall part 2 yang merupakan kekesalan mereka pada “teachers” yang diinterpretasikan sebagai pemerintah— yang selalu mengekang, sehingga kita tidak bisa menjadi diri sendiri. Dimana banyak pemerintahan pada masa itu selalu menyuruh kita untuk “patuh” dan tidak “ngeyel“.

Sedang kids dalam lagu ini mencerminkan masyarakat yang selalu dikekang oleh pemerintah. Dari tindakan hingga pemikiran, semua diatur. Aku jadi teringat sebuah band yang juga banyak melontarkan kritikan sejenis, namun lebih gahar lagi yakni Melancholic B1tch yang barangkali akan aku perbincangkan esok hari.

Kembali ke Pink Floyd, ketika 1980, rezim Apartheid Afrika Selatan bahkan melarang Another Brick in the Wall part 2 lantaran menganggap lagu tersebut mengkritik keras sistem pendidikan inferior kulit hitam.

gambar: amazon images

The Wall, bisa jadi merupakan tembok yang bikin kita tersisihkan di suatu tempat dan waktu. Sedang brick in the wall adalah kita, orang-orang yang menjadi tembok itu atau malah mereka, orang-orang yang membuat kita tersisih dan merasa tidak semestinya berada di sana.

Namun jika kalian melihat klip videonya, dimana merupakan versi daur ulang dari film Pink Floyd The Wall, kita akan menemukan interpretasi lain. Dimana lagu tersebut bercerita tentang pemberontakan anak sekolah yang menolak sebuah sistem pendidikan yang kaku, formalistik, dan pendidikan yang penuh dengan intimidasi.

Guru atau dosen dengan otoritas tertinggi di kelas dan sekolahan kerap memunculkan sejenis kediktatoran di ruang-ruang belajar. Hal itu menyebabkan kelas bahkan sekolah menjadi tempat menyeramkan untuk didatangi. Mereka merasa, sekolah harusnya memanusiakan manusia, bukan malah menjadikan peserta didik sebagai robot yang harus mengikuti otoritarianisme yang menyebut diri sebagai pengajar. Belum lagi jika membahas lembaga pendidik yang fokus mencetak lulusannya sebagai baut-baut penggerak kapital.

Dan sepertinya hal tersebut masih relate hingga hari ini.

Tetap fenomenal

Selain kedua album di atas, masih ada beberapa album lagi yang tidak kalah fenomenal. Misalnya saja album Animals yang terinspirasi dari novel karya George Orwell berjudul Animal Farm. Album tersebut menggambarkan kelas-kelas sosial dengan simbol beberapa hewan. Yang juga merupakan karakter yang bisa dibilang sama dalam novel, yakni Babi, Anjing, dan Domba.

Album ini merupakan kritik terhadap kapitalisme. Ia dengan cukup jelas menggambarkan kerusakan sosial serta moral masyarakat dalam laku kehidupan nyata. Yang oleh salah seorang penulis mengatakan kondisi manusia sama dengan binatang semata.

Mereka menggambarkan kaum elitis, kapitalis dan politisi kotor dalam metafora lirik Dogs yang menggambarkan tingkah pihak-pihak yang mengkhianati kepercayaan masyarakat yang telah mempercayai serta memilihnya.

Ada juga album Dark Side of the Moon yang memaksa para pendengarnya merasa cemas sekaligus terkesan terhadap eksplorasi melodi rumit yang sudah menjadi ciri khas dari Pink Floyd.

Pink Floyd sekali lagi menunjukkan betapa tekanan hidup yang pernah mereka jalani membuat mereka merealisasikan album yang begitu dekat dengan kondisi sekitar namun juga tak mengawang-awang. Ini merupakan musik mengenai relasi manusia dan ruang yang dalam.

Pasca album tersebut, kemudian bermunculan album-album lain yang juga tak ketinggalan mengkampanyekan gerakan anti-perang dan anti-penindasan. Seperti misalnya lagu Us and Them dalam album Dark Side of the Moon yang menolak perang Vietnam.


Terlepas dari berbagai konflik yang menyertai band ini hingga akhirnya tinggal reruntuhan, karya-karyanya masih tetap eksis dan abadi hingga kini. Tidak sedikit juga yang masih relevan dengan kondisi yang berlaku hari ini.

Ini mengisyaratkan bahwa dunia dengan beragam kemajuannya dalam banyak bidang, nyatanya masih banyak aspek yang belum juga bergeser dari tempatnya, justru semakin menemukan cara baru untuk berbuat culas.

Dan aspek yang tidak banyak berubah dan makin culas tersebut tidak lain merupakan orang-orang yang tidak tersentuh, yang tetap menjalankan agenda busuk di tengah pandemi hari ini.

Sementara mereka merencanakan agenda busuk di sisi gelap bulan, tetaplah kamu menjadi berlian-berlian yang tetap bersinar terang melawan segala ketertindasan.

No more articles