Login With Google

Mahasiswa Baru (Maba) Universitas Amikom Yogyakarta tahun ini melaksanakan seluruh kegiatan Maba secara daring.  Mulai dari ketika status masih calon Maba, mereka harus menjalani kuliah umum dan PSU secara daring sebelum pada akhirnya harus menjalani Penggalian Potensi Mahasiswa (PPM) sebagai rukun ketika menjadi Mahasiswa Amikom.

Tidak semua Maba Amikom mengikuti PPM di awal, ada yang mengikuti PPM di tahun depannya. Bukan hanya itu, sebagian mahasiswa mengikuti PPM hanya mengejar sertifikatnya, mereka melakukan hal itu lantaran sertifikat PPM sebelumnya telah hilang atau rusak. Contoh kasusnya, teman saya mengikuti PPM di awal. Kemudian di semester enam ia mengikuti PPM lagi dengan alasan ingin mengambil skripsi. Sebenarnya apa sih PPM itu?

Seperti yang tercantum di website resmi PPM, “PPM adalah agenda penyambutan Maba yang diselenggarakan oleh Universitas Amikom Yogyakarta. Dalam acara ini, mereka dikenalkan dengan lingkungan kampus, agar dapat dengan mudah beradaptasi sebelum memulai perkuliahan. Tidak hanya itu, PPM juga membekali Maba dengan banyak ilmu yang akan berguna di kemudian hari baik selama menjadi mahasiswa dan setelahnya.”

Membayangkan Mekanisme PPM Daring

Kembali lagi, kita bahas PPM 2020 yang dilaksanakan secara daring. Pandemi ini mengakibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan bahwa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tidak boleh dilakukan secara tatap muka. PKKMB hanya boleh dilakukan via internet atau dalam jaringan (daring) (24/06), yang kemudian Universitas Amikom Yogyakarta harus mengikuti instruksi tersebut.

Tentu menarik membayangkan tentang bagaimana Amikom mengadakan rangkaian acara PPM secara daring. Untuk pembekalan karir dan materi pengenalan kampus, konsep webinar bisa jadi solusi, begitupun dengan pengenalan orma dan open house. Atribut macam tali co-card atau yang lainnya bisa digantikan menjadi kewajiban masang green screen pertemuan daring yang aneh-aneh. Pameran karya bisa dilakukan untuk menghiasi feed sosmed PPM. Inagurasi dilakukan melalui live Youtube, lumayan menambah subscriber channel official kampus.

Flashmob sombong-sombongan membentuk logo atau nama kampus yang di foto menggunakan drone, bisa diganti kreasi koding loop pemrograman (karena IT beud). Cuma satu hal yang rasanya sulit tergantikan dari PPM langsung, yaitu senior hobi bentak-bentak yang tergabung dalam panitia ketertiban.

Terkait hal ini, imajinasi saya sebagai mahasiswa Amikom yang kreatif dan inovatif sangatlah liar. Apa jadinya kegiatan membentak Maba sebagai unjuk senioritas kalau dilakukan tanpa tatap muka? Paling pertama, panitia ketertiban masih bisa marah-marah karena ketika acara dimulai, ketika banyak Maba yang belum masuk room perkara sinyal jelek, “Yang lain ke mana? TIDAK ADA sinyal kah?, Rumahnya bisa dipindah GAKKK?”

Bisa juga, gara-gara alasan sinyal jelek itu, panitia ketertiban kemudian marah-marah dengan argumen penuh solidaritas sebagai menanaman prinsip gotong royong kepada para Maba, “Malah yang lain diem. TOLONGIN temen kalian yang belum masuk, KASIH HOTSPOT!” Padahal mereka tau, jarak menjadi halangan mengapa PPM tidak diadakan secara langsung.

Ada imajinasi yang lebih liar lagi. Beberapa tahun terahir saya selalu memantau berjalannya ketertiban, mereka banyak memasang muka garang di hadapan Maba. Padahal di belakang mereka baik. Lalu bagaimana tahun ini? Apakah mereka harus foto dengan muka garang, kemudian dipasang di layar ketika berlangsungnya PPM agar bisa dilihat Maba?

Selain itu, tren konsep virtual photoshoot akan semakin berkembang, karena para panitia PPM bagian dokumentasi dipaksa menerapkan teknik screenshot versi candid yang estetik.

Menarik juga kita membayangkan bagaimana sistem PPM yang akan dilaksanakan oleh mereka. Tapi kita percayakan kepada bagian acara/kreatif yang diberikan tanggung jawab. Atau, adakah temen-temen mahasiswa Amikom lain, yang bisa membantu memberikan masukan?

No more articles