Login With Google

Semester ini, Universitas Amikom Yogyakarta melakukan percobaan penggunaan sistem presensi baru, yakni menggunakan Quick Response Code (QR Code). Dilansir dari Wikipedia, QR Code adalah suatu jenis kode matriks atau kode batang dua dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave. Sebuah divisi Denso Corporation yang merupakan sebuah perusahaan Jepang dan dipublikasikan pada tahun 1994.

Awalnya QR Code digunakan untuk pelacakan kendaraan bagian di manufaktur, namun kini QR Code digunakan dalam konteks yang lebih luas. Di Jepang, penggunaan QR Code sangat populer, hampir semua jenis ponsel di Jepang bisa membaca QR Code. Sebagian besar pengusaha di sana telah memilih QR Code sebagai alat tambahan dalam program promosi produknya, baik yang bergerak dalam perdagangan maupun dalam bidang jasa.

Dalam tulisan sebelumnya, Sistem Presensi Online, Masih Belum Menyelesaikan Masalah, cara kerja sistem ini yakni, dosen login ke aplikasi komputer yang dipasang di setiap kelas perkuliahan, kemudian dosen akan menampilkan QR Code di layar kelas dan mahasiswa dapat melakukan presensi dari masing-masing gawai pintarnya menggunakan aplikasi Amikom One yang sebelumnya di unduh melalui Google Play Store. Setelah pertemuan selesai, laporan kehadiran perkuliahan dapat dilihat oleh mahasiswa, orang tua, dosen, dan di simpan dalam komputer server data kampus.

Bambang Sudaryatno, Wakil Rektor I bidang akademik mengatakan bahwa sistem presensi online yang rencananya diterapkan pada tahun ajaran 2019-2020 ini bertujuan untuk melatih mahasiswa untuk berperilaku jujur.

Budaya Titip Absen

Berkaitan dengan salah satu tujuan yang dikatakan oleh Wakil Rektor I, bahwa sistem ini untuk melatih mahasiswa untuk jujur. Namun sebenarnya titip absen telah menjadi kebiasaan yang sudah mengakar di kalangan mahasiswa. Alasannya pun beragam, mulai dari jalan yang macet, terlambat bangun, tidak tertarik mengikuti mata kuliah, hingga karena bobot mata kuliah yang dianggap tidak wajib.

Sebenarnya titip absen dapat digolongkan sebagai budaya dalam mahasiswa. Yang namanya budaya pastilah sesuatu yang bersifat turun temurun atau dapat juga dikatakan sebagai sesuatu yang telah menjadi kebiasaan.

Perilaku seperti ini sebenarnya tetap saja akan terjadi bagaimanapun caranya, tergantung dari pemikiran mahasiswanya itu sendiri. Sistem hanya dapat meminimalisir dan seperti terlihat memaksakan mahasiswa untuk jujur.

Mahasiswa IT

Dengan hadirnya sistem presensi online ini, banyak mahasiswa yang mencari cela. Ada salah satu mahasiswa yang mengatakan “Kasus titip absen akan marak karena mahasiswa akan log out aplikasi kemudian log in dengan user temannya tanpa sepengetahuan dosen.”

Artinya, sudah ada beberapa mahasiswa yang telah mengetahui cela dari sistem ini. Entah mereka mencoba sendiri ataupun dapat dari mulut-ke mulut di lingkungan mahasiswa.

Disisi lain, Amikom seakan-akan menantang mahasiswanya sendiri untuk menerobos sistem ini, secara, Amikom adalah kampusnya ‘anak IT’. Dan lagi, sistem online memiliki kemungkinan untuk dibobol.

Belanja atau Tidak?

“Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) itu ada maghneticnya, itu mahal dan biaya tinggi sehingga menggunakan QR Code. KTM tetap di pakai tanpa magnetik, hanya sebagai identitas.” Ucap Asro, Direktur IC.

Awalnya setiap tahunnya Amikom memproduksi KTM yang dilengkapi pita magnetik dengan biaya yang mahal, kemudian dalam perkembangannya—setelah adanya QR Code, Amikom akan memproduksi KTM tanpa pita magnetik. Ini diyakini dapat memotong biaya tahunan kampus.

Bisa dikatakan bahwa sistem ini merupakan langkah preventif biaya mahasiswa. Jika memang sistem ini mengikis biaya tahunan kampus, artinya biaya tahunan mahasiswa juga akan diturunkan.

Namun, Amikom akan menggunakan biaya yang besar untuk menerapkan sistem presensi online ini. “Jika sistem ini diterapkan sepenuhnya, maka infrastruktur juga harus menyesuaikan.” kata Asro.

Salah satu infrastruktur yang dimaksud adalah access point yang merupakan alat utama yang harus diadakan disetiap ruang kelas untuk kebutuhan koneksi internet mahasiswa agar tidak adanya masalah saat melakukan presensi.

Amikom  Harus Menelan Ludahnya

Seperti dikatakan Asro, langkah yang harus ditempuh guna memperbaiki koneksi internet di setiap kelas adalah dengan pemasangan access point.

Namun sebelum itu, Amikom sudah memberikan kebijakan bahwa setiap kelas tidak dipasangi access point, dengan alasan mahasiswa akan terlalu banyak berinternet di dalam kelas saat jam mata kuliah.

Langkah ini seakan mengharuskan Amikom menelan ludahnya sendiri jika memang sistem presensi online ini direalisasikan. Pasalnya, mahasiswa akan banyak yang meminta hingga bahkan memaksa kampus untuk memperbaiki koneksi internet di setiap kelas.

 

No more articles