Login With Google

Dalam sehari-hari, kita sering mendengar ucapan-ucapan seperti ini,  “Wong Jowo Sok-sokan”, “Cino Pailit”, “Wong wedok kuwi sing anggun ngono lho!”. Stereotip tersebut telah menjadi hegemoni dalam masyarakat kita.

Kita secara tidak langsung telah mengikis paradigma kritis dan holistik terhadap sesuatu dalam diri kita. Hal tersebut terjadi ketika kita sering menerima ucapan orang terdekat kita, seperti “Kamu jangan dekat dengan dia (orang etnis A), ya. Nanti kamu B.”

Menurut Cambridge Dictonary, stereotip diartikan sebagai seperangkat gagasan yang dimiliki orang tentang seperti apa seseorang atau sesuatu itu, terutama gagasan yang salah. Seperti udara stereotip ada tetapi tak terlihat. Dalam berkehidupan sosial, semua lini pasti memiliki sebuah karakteristik tertentu yang dapat dijadikan sebagai objek stigma. Kita seharusnya mengabaikan stigma dan stereotip yang melekat pada diri, tetapi hal tersebut sangatlah sulit untuk dilakukan.

Perlu dikatahui, bahwa stereotip yang melekat pada diri kita memiliki dampak yang signifikan terhadap performa diri. Para ilmuan menemukan dampak tersebut dan menyebutnya dengan stereotype threat. Dalam studi tersebut, orang berkulit hitam dan ras kaukasoid diuji. Ketika dilakukan tes diagnostik kecerdasan, mereka yang berkulit hitam mengalami peforma di bawah rata-rata (dalam kondisi stereotype threat).

Ketika dilakukan tes non-diagnostik, reforma yang diuji relatif sama. Stereotype threat hasil tadi mengacu terhadap perasaan takut untuk melakukan sesuatu yang dianggap akan menimbulkan pandangan negatif terhadap objek yang mengalami stigmatisasi. Akibatnya, terjadi manipulasi kemampuan pada dirinya. Selain itu, stereotip bahkan memvalidasi penindasan, ekploitasi, kekerasan, kekuatan dan hegemoni secara struktural. Lantas, kenapa bisa terjadi dan semakin kuat?

Stereotip adalah Anak Kandung Revolusi Kognitif

The Cambridge Handbook of the Psychology of Prejudice menjelaskan bahwa otak manusia telah diasah oleh proses seleksi biologis untuk mengidentifikasi berbagai tantangan peforma tubuh, termasuk ancaman atau peluang yang ditimbulkan oleh tindakan orang lain. Kemampuan kognitif manusia sangat tinggi dibandingkan organisme lain sekaligus menjadikan manusia sebagai makhluk sosial yang sangat bergantung dengan manusia lain (dependen). Revolusi kognitif yang terjadi sekitar 70.000 tahun lalu (menurut para pengkaji biologi evolusioner) membuat otak kita mengembangkan kemampuan berbahasa, imajinasi, kesadaran yang memperkokoh alasan manusia sebagai makhluk sosial.

Rangkaian evolusi tersebut memberikan dasar argumen yang kuat, terintegrasi, dan generatif untuk memahami prosesnya dan tentunya dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang stereotip. Dilansir dari artikel berjudul Theory of predictive brain as important as evolution oleh Prof. Lars Muckli, Kita melakukan stereotip sebagai upaya otak kita untuk memprediksi secara cepat oportunitas dan ancaman yang akan terjadi. Otak kita membuat persepsi akan lingkungan berdasarkan apa yang dia lihat; kita bahkan tidak dapat melihat dunia tanpa memfilternya melalui lensa asumsi kita.

Stereotip sebagai cara utama otak kita menyederhanakan dunia sosial. Hal ini untuk mengurangi proses berpikir yang (seharusnya) kita lakukan ketika menemui orang baru. Dari perspektif evolusinya, stereotip berfungsi untuk mengidentifikasi individu sebagai anggota komunitas sosial, yang kemudian menyimpulkan bahwa individu tersebut memiliki sifat yang identik dengan karakteristik komunitas sosialnya.

Ringkasnya, kognitif (proses informasi) pemikiran dipermudah oleh stereotip. Pandangan terhadap individu tertentu sebagai anggota khas dari suatu kelompok, seseorang tidak perlu berupaya yang lebih rumit dan panjang untuk memahami sebagai individu yang unik.

Cara pengelompokan tersebut diharapkan membantu sifat kita untuk memetakan dunia tanpa memproses banyaknya input informasi yang ditangkap. Namun kenyataannya, seperti yang dibahas dalam artikel berjudul Rethinking Racial Stereotyping, Prejudice, and Discrimination oleh Keith B. Maddox, PhD, stereotip lahir atas konstruksi sosial yang dibangun, bukan lagi sesuatu bawaan dari diri masing-masing. Jika kontruksi sosial ini sangat kuat dalam diri manusia, siapa yang salah?  

Memetakan Akar Kesalahan

Teori kontrak sosial menjelaskan bahwa produk stereotip bukanlah hasil dari sistem kognitif individu sendiri, namun stereotip adalah produk kolektif dan ideologi. Penjelasan di atas menyatakan bahwa stereotip adalah hal yang alamiah dan telah tersimpan dalam otak kita. Namun, kesalahan natural oleh dampak kontruksi sosial dapat berpengaruh kuat dan menggesernya. Ekspansi media pada abad ini sangat cepat melalui teknologi informasi.  

Media memiliki kekuatan mempengaruhi niat, opini, kepercayaan, dan sikap. Dengan mengelompokkan apa yang akan dikonsumsi oleh khalayak, kita telah masuk dalam fenomena bubble. Fenomena tersebut berfungsi untuk mengelompokkan manusia berdasarkan apa yang mereka sukai, cari, atau apa yang cocok untuk mereka.

Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah industri periklanan dan mempermudah pemasaran agar tepat sasaran pasarnya. Selain itu, penggunaan sosial media dari fenomena bubble juga membuat kita dikelompokkan dengan pengguna lain yang sepemikiran.

Fenomena lainnya adalah echo chamber, yang mana secara tidak langsung memiliki fungsi untuk memperkuat apa yang sudah diyakini, sehingga kita akan terbatas secara intelektual dan cenderung membuat stigma dan stereotip. Girad Lotan (2014), seorang profesor dari New York University sedikit menggambarkan fenomena echo chamber ini,

“ we construct our online profiles based on what we already know, what we’re interested in, and what we’re recommended, social networks are perfectly designed to reinforce our existing beliefs”

Media juga acap kali melakukan half-truth dan membuat stigma berlebih, contohnya adalah ketakutan atas pesawat jatuh. Padahal, pesawat adalah moda transportasi yang secara statistik paling minim tingkat kecelakaannya, namun media menggembor-gemborkan pesawat jatuh sebagai sesuatu hal yang kerap terjadi (availability heuristic).

Peran media juga sering kali melakukan half truth dan membuat stigma berlebih, contohnya peristiwa seseorang tersambar petir. Padahal, statistik terjadinya sangat minim, namun media acap kali menggembor-gemborkan peristiwa tersambar petir sebagai sesuatu yang sering terjadi, fungsi availability heuristic dalam dunia psikologi.

Selain media, yang patut kita salahkan adalah mereka (social group, institusi, organisasi, dan individu) yang secara tidak langsung melayangkan stereotip tersebut. Jurnal yang berjudul The Construction of Stereotypes within Social Psychology: From Social Cognition to Ideology oleh Martha Augoustinos dan Iain Walker menyebutkan bahwa stereotip, prasangka, dan rasisme telah digunakan sebagai alat untuk keuntungan ekonomi atau sosial suatu kelompok terhadap kelompok lain.

Mereka melayangkan premis stereotip kepada yang lain berdampak menimbulkan kekuatan opini mendasar untuk menerima dan membenarkan klaim tersebut. Stereotip ini harus diberantas hingga akarnya, yakni pemikiran kita sendiri. Caranya dengan menganggap bahwa sifat dan karakteristik individu belum tentu sesuai dengan karakteristik sebuah kelompok secara menyeluruh.

Hal ini dikarenakan stereotip menimbulkan self-fulfilling prophecy (pygmallion effect) di mana apa yang kita pikirkan baik di level individu maupun masyarakat dapat memengaruhi sikap dan tindakan kita terhadap orang/kelompok lain. Sebaliknya, tindakan kita juga akan dipengaruhi oleh bagaimana orang/kelompok lain membuat stigma kepada kita.

Pygmallion effect yang merupakan salah satu bentuk self fulfilling prophecy dalam dunia psikologi ditimbulkan oleh stereotip. Seperti yang disampaikan oleh sosiologis bernama Robert K. Merton,

“When Roxanna falsely believes her marriage will fail, her fears of such failure actually cause the marriage to fail.”

Dengan begitu, apa yang kita pikirkan baik dalam lingkup individu maupun masyarakat dapat mempengaruhi sikap dan tindakan kita terhadapnya. Sebaliknya, tindakan kita juga akan dipengaruhi oleh bagaimana individu atau kelompok lain membuat stigma kepada kita.

Self fulfilling prophecy memberikan renungan singkat tentang siapa yang bersalah dalam sejarah panjang stereotip ini. Media memang sering menyusun template destruktif yang dibentuk terhadap stereotip kita, seperti “Orang berkulit hitam adalah si pelaku kriminal”, “Islam adalah teroris”, dan “Wanita selalu dilecehkan” menjadi lagu lama yang selalu dilantunkan.

Namun, apakah anggapan terhadap individu yang ditemui sebagai jati diri individu seutuhnya atau kita masih melakukan stigma? Sila berdiskusi dan tetap saling menguatkan!

No more articles