Ilustrasi Resolusi Jihad
Ilustrasi Resolusi Jihad
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab, Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar…! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…! Merdeka!

(Bung Tomo)

Seruan menggelegar dari Bung Tomo melalui radio mampu membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang melawan tentara asing. Namun, bagi warga Nahdliyin, ada seruan lain yang lebih hebat dan membangkitkan semangat juang mereka, yakni Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad inilah yang menjadi pemantik semangat juang seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur terutama di Surabaya untuk berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Belanda dan pihak asing lainnya yang mencoba merongrong kembali kemerdekaan bangsa.

Resolusi Jihad memiliki pengaruh yang besar dalam menggalang umat Islam khususnya untuk berjuang mengangkat senjata. Seruan yang dikeluarkan oleh NU yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia untuk berjuang membela Tanah Air dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya beberapa waktu setelah kemerdekaan diproklamirkan.

Melalui pesantren yang didirikannya dan juga jam’iyah NU, KH Hasyim Asyari menanamkan nasionalisme dan patriotisme yang kelak mengobarkan api perlawanan rakyat terhadap kolonialisme yang telah mengakar berabad-abad lamanya.

Sejarah Yang Hilang

10 November 1945, terjadi pertempuran dahsyat arek-arek Surabaya melawan tentara sekutu NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan sekutunya. Jika melihat kilas balik, peristiwa itu terjadi bukan secara tiba-tiba, melainkan ada pemantik yang menimbulkan peristiwa bersejarah itu terjadi.

Belum lama setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, terjadi peperangan hampir di semua kota penting di Jawa untuk mempertahankan kedaulatan negara. 74 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Oktober 1945, terjadi peristiwa penting dalam rangkaian sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme.

Delegasi NU se-Jawa dan Madura mengadakan pertemuan di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya pada tanggal 21 Oktober 1945, pertemuan yang dipimpin langsung oleh pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari, menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (Perang Suci) dan menentang kembalinya Belanda adalah kewajiban setiap Muslim (fardhu ‘ain).

PBNU menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang kemudian terkenal dengan sebutan Resolusi Jihad yang dimaklumkan pada tanggal 22 Oktober 1945.

Sejak dimaklumkan tanggal 22 Oktober 1945, Surabaya guncang oleh kabar seruan jihad dari PBNU ini. Dari masjid hingga mushalla di setiap desa menyiarkan seruan jihad yang dengan sukacita disambut penduduk Surabaya yang sepanjang bulan September sampai Oktober telah meraih kemenangan dalam pertempuran melawan sisa-sisa tentara Jepang yang menolak tunduk kepada arek-arek Surabaya.

Resolusi jihad inilah yang nantinya akan memicu peristiwa bersejarah 10 november 1945 di Surabaya yang menurut William H. Frederick (1989) sebagai pertempuran paling nekat dan destruktif yang tiga minggu di antaranya sangat mengerikan jauh di luar yang dibayangkan pihak Sekutu maupun Indonesia.

Dugaan Mayor Jenderal E.C.Mansergh bahwa kota Surabaya bakal jatuh dalam tiga hari meleset, karena arek-arek Surabaya baru mundur ke luar kota setelah bertempur 100 hari.

Sayangnya peran santri dan para ulama pada peristiwa tersebut tidak ditulis dalam sejarah nasional Indonesia. Sehingga ada catatan penting yang hilang, yaitu catatan mengenai resolusi jihad sebagai konteks peperangan yang akhirnya ditandai secara nasional sebagai Hari Pahlawan.

Harapan Untuk Santri

Sejarah telah mencatat bahwa santri telah berperan penting dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kini para santri diharapkan dapat meneladani semangat jihad cinta tanah air, rela berkorban untuk bangsa dan negara sebab berjuang membela Tanah Air adalah wajib.

Peringatan Hari Santri merupakan penghormatan atas jasa para santri yang turut berjuang memerdekakan Indonesia dan menumbuhkan rasa patriotisme di kalangan generasi bangsa Indonesia.

Dan santri dimasa kini harus memiliki konsep dan gagasan untuk mengisi kemerdekaan. Tentunya, perjuangan pada saat ini tidak sama seperti zaman dulu, dimana perjuangan menggunakan fisik dan mengangkat senjata untuk mengusir penjajah.

Seharusnya, sekarang ini, santri dituntut untuk bisa menjadi agen perdamaian seperti tema Hari Santri Nasional pada tahun ini (Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia), dan banyaknya alumni pesantren yang menempuh studi di Universitas Amikom harusnya bisa menjadi warna baru dengan melahirkan inovasi solutif untuk menjawab tantangan zaman dan meneruskan perjuangan.

Selamat hari santri 2019
Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email