Oleh : Yosefina Safira Intan, anggota magang LPM Journal.

/1/ Romansa Nirmala

Nirmala masih saja tersenyum ketika lembayung
Selaksa pasir di pesisir pantai, kisah romansanya tak habis
Pemuda pujaan tandang ke gubuknya kala senja,
dekap rindu rupanya

Ketika pulang pemudanya, Nirmala enggan mengiyakan takut rindu racau
Saban Waktu Nirmala duduk depan gubuknya
Bersiap menyambut pemudanya
Lalu kopi dan ubi goreng sudah dijamunya

Nirmala sedang memadu rindu di teduh senja
Sampai lupa, Nirmala harus masak makan malam
Nirmala benar benar bahagia rupanya
Tungkunya saja ia lupa

Yogyakarta, 2020

/2/ Sengketa Rasa

Tuan dan Puan di tengah perbatasan kota
Menahan rindu karena corona
Virus yang datang dari wuhan, manusia sebagai perantara
Tuan dan Puan harus pisah tanpa peluk Tanpa dekap dan dekat
Menyapa dengan jaga jarak, berjabat tangan tak mampu
Takut untuk saling menyakiti

Tahan saja rindumu
Jangan banyak cemas tentang dewamu
Jangan banyak gurau tentang dewimu
Tuan dan Puan yang sedang merindu
Jangan cemberut parasmu
Ini akan berakhir dan seketika rindumu berjumpa pada empunya

Yogyakarta,  2020

/3/ Kata-kata Adalah Rasa

Tak kubiarkan rasa kita bagai musim
Waktu waktu berubah tak sedia kala mana kita jumpa larut malam di ramai kota
Larian di taman bagi kanak-kanak mengejar layangan
Sebab pikiran hanya kita jua hidup di semesta ini

Rasanya ingin aku dan kau kembali ke tahun yang lalu
Sebab sekarang kita tak nyaman untuk memendam rindu
jika jauh tubuh kita, pikiran tak selalu benar tentang–mu
kau berpaling aku tak izinkan
karena rasa tak tumbuh sekedar dan tak mudah untuk pergi

lirih-lirih pada sajak ini mewakilkan rasa
Sebab rasa ada di setiap makna sajak
nanti kau baca ketika senja, rasanya sampai ke dinding-dinding hatimu
Aku mencintaimu sebelum kau mengatakan ia untuk bersamaku
lalu tersenyum simpul di wajahmu sudah ku pastikan

Yogyakarta, 2020

No more articles