Sebenarnya, Apa yang Terjadi?

Sebenarnya, Apa yang Terjadi. Foto Journal/Bayu
Sebenarnya, Apa yang Terjadi. Foto Journal/Bayu
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Kemarin, kudapati kabar beberapa kawanku luka-luka, saat mereka coba tunjukkan keresahan. Ada yang dilempar batu, dipukul, ditendang, bahkan ada yang terkena gas air mata.

Kemarin juga, kudapati kabar bahwa beberapa kawan mati tertembus besi panas, oleh orang-orang berseragam. Kulihat ayahnya pulang, lalu tangis lara tak dapat dihindarkan.

Sebenarnya apa? Keresahan apa yang membuat mereka nekat taruhkan nyawa? Apa yang mereka perjuangkan? Apakah mereka tak ada otak?

Kuperhatikan.

Teriknya surya membakar kulit, namun kobarkan juang. Darah juang mengelegar,

“…Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda relakan darah juang kami

Tuk membebaskan rakyat…”

Apa yang mereka perjuangkan? Membebaskan rakyat dari apa? Coba jelaskan padaku?

Ibu selalu berpesan, “jaga diri baik-baik.” Lalu, apakah pertaruhkan nyawa seperti itu disebut menjaga diri baik-baik? Seseorang pernah memberitahu ku, “surga itu ada di telapak kaki ibu.” haruskah kubantah tempat surga berada?

Aku tak mengerti lagi.

Kawanku naik menepatkan diri, lalu ia bawakan Wiji di tengah kami,

“Jika kau tak sanggup lagi bertanya

Kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan 

 

Jika kau tahan kata-katamu

Mulutmu tak bisa mengucapkan

Apa maumu terampas

 

Kau akan diperlakukan seperti batu

Dibuang dipungut

Atau dicabut seperti rumput

 

Atau menganga

Diisi apa saja menerima

Tak bisa ambil bagian

 

Jika kau tak berani lagi bertanya

Kita akan jadi korban keputusan-keputusan

Jangan kau penjarakan ucapanmu

 

Jika kau menghamba pada ketakutan

Kita akan memperpanjang barisan perbudakan”

Apa? Sebenarnya apa yang mereka mau? Di bawah panas terik matahari yang membakar kulit, bisa-bisanya mereka melakukan hal gila seperti itu.

Hey, Wiji telah lama menghilang, mungkin juga telah mati. Lalu untuk apa kau hadirkan lagi? Hah? Mau pakai jurus edo tensei?

Kulihat lagi seorang kawan naik menempatkan diri, mau cari mati?

Katanya, dia mau membakar semangat juang. Lalu mengkait-kaitkan dengan punya-tidaknya hati nurani.

Entah bagaimana ini terjadi. Apakah negriku benar-benar kacau balau? Apakah benar-benar di ambang batas?

Bagaimana aku bisa berpura-pura tidak mengerti akan semua ini? Tentang perjuangan hak-hak yang tak terpenuhi, tentang keadilan di negri ini. Mereka rela taruhkan nyawa demi bangsa. Lalu bagaimana dengan pesan ibu? hei, jaga dirimu baik-baik, dari ketidakadilan yang terjadi. Pesan itu tak sekedar tersurat, namun juga tersirat.

Wiji mungkin telah mati, namun cintanya akan negri, abadi.

Atas nama kemanusiaan; salam perjuangan, salam pembebasan, panjang umur pergerakan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email