Ini akan menjadi Juli tanpa Sapardi, lagi.

Hujan bulan lalu masihlah turun, Pak. Membersamai derai pilu kepergian anggota keluarga, yang pusarannya saja belum aku kunjungi.

Rabu (16/6/2021) pukul 23:26 wib, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal kegawaiku, kupikir Elisabeth Kübler-Ross akan tersenyum kecut seraya bertutur, “Hey, pakai sajalah teoriku!” lalu aku memulai tahap pertama dari lima tahapan kesedihan menurut psikiater itu.

Denial

“Ngga mungkin lah!” kalimat pertama yang muncul dalam benakku saat kubaca pesan itu. Bagaimana orang itu dapat kabar se-tidak menyenangkan itu, sedangkan orang yang dimaksud saja masih membalas pesanku di hari yang lalu.

Seperti pemaknaan terminologi kuno yang menyatakan bahwa perempuan hanya berkutat pada “Pupur-dapur-kasur”, lalu ketika seorang penyintas vaginismus berbicara tentang dirinya, masyarakat beranggapan, “Itu tidak mungkin, kau hanya mengada-ada saja.”

Atau ketidakpercayaan warga bahwa desa yang mereka tempati tetap akan ditambang saat mengetahui bahwa daerahnya rentan longsor, dan lebih tidak percaya lagi saat meminta kejelasan izin pada gubernur, namun malah disarankan untuk menanyakannya pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).

Anger

Sumpah serapahku bergumul di kepala, kutuliskan pesan pada kawanku, “Mau misuh-misuh aku di depan kuburnya,” Bagaimana bisa dia yang katanya mau jadi jurnalis? malah mati saat kawan kita yang di Jombang sana mengalami penganiayaan tapi malah dikriminalisasi, saat plotingan dana orma sampai saat ini ditulis pun masih belum jelas, saat katanya mau menemaniku di kepengurusan kali ini.

Bargaining

Kenapa harus terburu-buru? Bukankah masih banyak hal yang perlu dilakukan?

Bukankah masih banyak hal yang perlu dipelajari? Seperti seseorang yang berkata padaku bahwa kita seharusnya belajar copywriting. Bukankah masih banyak hal yang perlu ditulis di tempat ini?

Kenapa harus terburu-buru untuk pergi?

Depression

Pelatihan rutinan 2 minggu yang lalu sepakat untuk ditiadakan, namun pelatihan hari minggu kemarin sudah jalan lagi. Aku sengaja tidak ikut, rasanya ada yang kurang, rasanya masih terlalu sakit saat dikenang, yang lain mungkin berpikir aku terlalu egois, tapi ya sudahlah. Kan kucoba minggu depan.

Hey! Jangan pura-pura tidak mengerti seperti itu

Macam website yang sudah tahu banyak diakses mahasiswa, apalagi saat ujian, namun seolah-olah menutup mata dan telinga, seraya berucap “Ha ha ha website ini bisa dipergunakan dengan baik.”

Acceptance

Penerimaan. Aku selalu berkata, “Orang mati ya mati saja. Orang mati tidak akan hidup lagi, apalagi dengan tangis.” tapi pilunya masih sangat nyata.

Jangan terlalu banyak tertawa, Sla. Jika kau ada waktu luang di sana, bacalah beberapa buku, biar bacaanmu tidak itu-itu saja.

Oleh: Dina Fadhilah

No more articles