Sexy Killers: Membuka Fakta di Balik Megahnya Kota

Sexy Killers
tangkapan layar Film Sexy Killers
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Film dokumenter berjudul Sexy Killers garapan beberapa jurnalis dan videographer ini telah tembus ditonton lebih dari 15 juta kali lewat channel youtube Watchdoc Image. Film dokumenter ini sukses mencuri perhatian netizen hingga sederet politisi yang ikut terlibat. Ya, dampak yang dirasakan bukan hanya kepada warganet, melainkan hingga melibatkan capres dan cawapres. Dengan adanya film ini disebut-sebut sebagai bentuk kampanye golput. Bagaimana tidak, publiskasi film ini dilakukan ketika demam kampanye mendekati pemilu Indonesia untuk periode 2019-2024 mendatang. Didukung data yang diperoleh dari berbagai narasumber yang terlibat langsung di dalamnya; petani, nelayan, gerakan sosial yang menamai diri mereka Greenpeace, Gubernur, hingga presiden RI 2014-2019.

Fakta kelam di balik megahnya kota-kota di Indonesia di mana 50% PLTU yang beroperasi sebagai pembangkit listriknya. “Sejak beroperasi dari tahun 2007 hingga tahun 2017 hanya di Kelurahan Panau setidaknya dilaporkan 8 orang meningggal akibat kanker dan penyakit paru-paru sementara 6 orang lainnya sedang menjalani perawatan.” Cuplikan narasi dari film Sexy Killers.

Film berdurasi 88 menit 55 detik berisi tentang bagaimana batu bara diambil hingga memberikan dampak baik dan buruk kepada masyarakat. Hal inilah yang menimbulkan pro dan kontra. Sexy Killers mengangkat isu permasalahan lingkungan mulai dari pencemaran air akibat kegiatan penggalian dan distribusi batu bara, pencemaran polusi udara karena adanya PLTU, kerusakan lingkungan baik berupa hayati dan nonhayati serta mengungkap sisi gelap permasalahan sosial setempat; kematian korban yang ‘tak diacuhkan’ pemerintah.

Seperti sebuah film, adegan dalam drama begitu terlihat membangun. Pernyataan Gubernur Kalimantan Timur benar-benar membuat netizen harus mengelus dada. Beliau hanya mengatakan “turut prihatin” dan “nasib” ketika dimintai pendapat tentang anak-anak yang menjadi korban dari lubang galian batu bara. Tak jauh berbeda dengan beliau, jawaban paslon nomor urut 01 dan 02 dirasa lebih memilih ‘diam’ karena ketika disinggung mengenai masalah sosial akibat penambangan batu bara di debat capres 2019, keduanya menjawab ‘seperlunya’ saja, yaitu mengatakan akan menindaklanjuti dengan tegas bagi pelaku yang merusak tanpa menimbun lubang bekas galian tersebut.

Aktivitas kapal-kapal Tongkang disebut-sebut merusak keanekaragaman hayati karena jangkar kapal yang diletakkan sembarangan dan tak jarang merusak terumbu karang. Padahal butuh waktu ribuan tahun terumbu karang dapat tumbuh. Menurut pengakuan salah seorang penduduk di Samarinda, Kalimantan Timur, aktivitas kapal Tongkang dapat disaksikan setiap hari mengusungi batu bara dan bahkan tak jarang menabrak jembatan penghubung (Kamis, 18 April 2019).

Sebuah analisis terbaru dari International Energy Agency (IEA) tahun 2016 bahkan memperkirakan, polusi udara bertanggung jawab atas kematian dini 60 ribu orang di Indonesia. Bahkan ada yang menyebutkan polusi udara akibat aktivitas PLTU di dunia memakan jiwa hingga rata-rata perhari mencapai 17 jiwa melayang. Namun, perlu diketahui bahwa penutupan lubang bekas galian tambang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Samarinda pernah menerangkan perincian biaya menutup lubang tambang. Untuk lubang seluas 1 hektare dengan kedalaman 30 meter dan jarak disposal (tanah uruk ke lubang tambang) 500 meter, penutupan bisa menguras Rp 1,3 miliar. (Kaltim Post, 2015).

Jika masalah sudah sebesar ini, siapa yang harus bertanggung jawab? Pemilik perusahaan pertambangan kah? Atau pemerintah yang mudah sekali memberi izin dan justru ikut menanam saham tanpa mempertimbangkan dampaknya ke depan?

Seharusnya Indonesia yang kaya ini dapat lebih maju, BUMN sebaiknya mampu mengelola batu bara yang ada seperti yang dituturkan Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan. (Dikutip dri Liputan6, 2018). Sehingga mampu dikelola dengan baik, bukan malah ditinggalkan terbengkalai begitu saja lubang bekas galian yang kaya akan zat-zat beracun, yaitu logam berat seperti Fe (besi), Mn (mangan), Pb (timbal), As (arsenik), Hg (merkuri), Se (selenium) dan B (boron).

Jika sebagai warga negara kita berhak berpendapat, lalu mengapa tidak kita bantu dengan mendukung suatu gagasan berupa teknologi terbarukan? Saat ini para engineer sudah berlomba-lomba membuat panel sel surya sebagai pembangkit listrik. Greenpeace bahkan memiliki kapal terbesar yang mengandalkan panel sel surya. Semoga pemuda-pemudi bangsa dapat mewujudkan mimpi Indonesia yang lebih sejahtera.[]

Dikirim oleh Rizki Nuraini Ramadhani

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email