lpmjournal.id – Universitas Amikom Yogyakarta menerapkan sistem presensi online melalui Quick Response Code (QR Code) sejak awal semester genap perkuliahan 2018/2019.

Dosen login ke aplikasi komputer yang dipasang di setiap kelas perkuliahan, kemudian dosen akan menampilkan QR Code di layar kelas dan mahasiswa dapat melakukan presensi dari masing-masing gawai pintarnya menggunakan aplikasi Amikom One yang disediakan oleh Amikom.

Setelah pertemuan selesai, laporan kehadiran perkuliahan dapat dilihat oleh mahasiswa, orang tua, dosen dan langsung disimpan di komputer server data kampus.

“Sebenarnya sistem ini sederhana, hanya memindai QR Code yang ditampilkan dengan aplikasi di device.” Jelas Asro Nasiri, Direktur IC.

Gagasan awal penerapan sistem ini merupakan pengembangan dari sistem Kartu Tanda Mahasiswa  (KTM) yang dulunya menggunakan magnetik.

“Sistem Presensi ini merupakan tanggung jawab IC, sistem di proses pembelajaran dari penerimaan mahasiswa baru hingga kelulusan semua dari IC.” Ujar Asro, menegaskan soal tanggung jawab sistem presensi baru.

Sistem Presensi Online Lebih Murah

Perubahan sistem magnetik ke aplikasi online ini dinilai lebih ekonomis. Produksi KTM dengan pita magnetik memerlukan biaya yang mahal, sekarang kartu KTM tidak menggunakan pita magnetik karena hanya sebagai identitas.

“KTM itu ada maghneticnya, itu mahal dan biaya tinggi sehingga menggunakan QR Code. KTM tetap dipake tanpa magnetik, hanya sebagai identitas.” Ucap Asro.

Jodi Rizal Ramadhan, Mahasiswa Jurusan Informatika juga merasakan dampak ekonomis. Ia mengatakan bahwa jika kehilangan KTM, mahasiswa harus membuat baru dengan biaya Rp50 ribu rupiah. Namun jika menggunakan aplikasi, hanya menginstalnya di Playstore.

Sistem Mengajarkan Kejujuran

Bambang Sudaryatno, Wakil Rektor I bidang akademik dan juga sebagai dosen mata kuliah yang sudah menerapkan sistem baru mengklaim telah merasakan manfaat dari sistem tersebut.

Tak sekedar mempermudah urusan administrasi perkuliahan, secara tidak langsung juga melatih kejujuran para mahasiswa.

“Tujuan pembuatan QR Code adalah melatih mahasiswa untuk jujur, karena masih ada beberapa yang titip absen.” Jelas Bambang.

Disamping itu, ia juga mengatakan dari hasil pengujiannya cukup efektif. Bambang juga mengakui bahwa masih ada kesalahan, namun kecil.

Berbeda pendapat, Annisa Risqika E., mahasiswa Ilmu Komunikasi mengatakan bahwa kasus titip absen akan marak karena mahasiswa akan logout aplikasi kemudian login dengan user temannya tanpa sepengetahuan dosen.

Masih Banyak Kekurangan

Karena masih dalam masa percobaan, sistem tersebut dinilai masih banyak kekurangan. Akibatnya, banyak mahasiswa yang dirugikan akibat sistem baru yang belum siap dan masih memerlukan banyak pembaharuan dan evaluasi dari pihak dosen dan mahasiswa.

Mengenai proses scanning atau pemindaian dinilai sama saja seperti sistem yang lama, karena harus dilakukan dari jarak dekat.

“Saat memindai QR Code yang di layar depan kelas, kita harus mendekat. Belum bisa jarak jauh, apa lagi yang kamera HPnya kurang berkualitas. Dan ini sama saja dengan sistem yang lama.” Ungkap Jodi Rizal R. yang merupakan mahasiswa jurusan Informatika.

Bukan hanya cara pemindaian yang menjadi masalah, wifi kampus yang lamban juga menjadi kendala dalam pelaksanaan sistem presensi yang baru tersebut, walaupun sebenarnya kampus sudah menyediakan wifi khusus mahasiswa dengan bandwidth 350 Mega.

“Banyak area kelas yang tidak terjangkau wifi, misal di lantai 4. Kalau misal diperluas, ini bisa membantu.” Kata Rahmadi Fandu P. mahasiswa Informatika ketika ditanyai perihal wifi kampus sebagai fasilitas utama di dalam penerapan sistem tersebut.

Mahasiswa pengguna IOS juga merasakan diskriminasi dari sistem ini. Pasalnya, sistem ini hanya dapat dipasang di Android.

Fandu mengharapkan, jika nantinya sistem ini diterapkan harus tetap menggunakan sistem yang lama, sebelum ada di versi Ios, untuk mengantisipasi mahasiswa yang tidak menggunakan Android.

Namun, sebelumnya Asro telah menjelaskan bahwa kampus sudah pernah memberikan kebijakan jika di kelas tidak dipasang access point. Pemasangan alat pemancar koneksi internet ini ditakutkan mengakibatkan mahasiswa terlalu banyak menggunakan internet di kelas.

“Jika sistem ini diterapkan sepenuhnya, maka infrastruktur juga harus menyesuaikan.” Jelas Asro.

Masih perlu survey

Sistem yang rencananya akan direalisasikan di tahun 2019-2020 masih memerlukan survey dari pihak dosen ataupun dari mahasiswa yang menggunakan aplikasi Amikom One.

“Masih melihat hasil evaluasi di masa percobaan saat ini. Nanti pure menggunakan QR Code atau masih menggunakan sistem lama.” Kata Bambang.

Bambang menegaskan bahwa jika ada permasalahan dari mahasiswa, bisa langsung dibicarakan dengan pihak rektorat.

“Yang perlu diketahui untuk mahasiswa, sistem ini (presensi online) untuk mempermudahkan administrasi pembelajaran.” tutupnya.

Reporter: Yoga, Ersla

Penyunting: Adi Ariyanto

No more articles