Login With Google

LPMJOURNAL.ID – Kemajuan ekonomi saat ini menjadi tolak ukur sebuah bangsa yang sejahtera dan dapat dihargai bangsa lain. Semangat kewirausahaan yang kuat dari masyarakat akan memudahkan dalam mencapai kemajuan ekonomi sebuah bangsa.

Pada tahun 2018, di negara maju rata-rata 14 persen dari total penduduk usia kerja adalah enterpreneur. Berdasarkan laporan Global Enterpreneurship Index, negara-negara seperti Amerika Serikat, Swiss, Kanada, dan Inggris menempati peringkat sepuluh teratas. Dari Asia, Hong Kong dan Taiwan menempati urutan 13 dan 18.

Indonesia merupakan negara yang mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah berupa hasil tambang, pertanian, perikanan, dan tanah yang subur. Potensi tersebut merupakan modal dan kekuatan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang maju.

Namun, kekuatan potensi tersebut, Indonesia tidak mampu mengimbangi. Jika dilihat hasil Sensus Ekonomi, wirausaha Indonesia baru mencapai 3,1% dari jumlah angkatan kerja. Posisi ini jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperi Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina

Ironisnya, menurut data Badan Pusat Statistik, tingkat kemiskinan di Indonesia berada pada titik 9,8%, jumlah penduduk miskin atau yang pengeluaran per kapita tiap bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 25,95 juta orang.

Fakta selanjutnya, Jumlah Penduduk Indonesia 2019 Mencapai 267 Juta Jiwa. Jumlah penduduk kelompok usia produktif yang merupakan pelaku utama dalam perkembangan bangsa mencapai 183,36 juta jiwa atau sebesar 68,7% dari total populasi.

Peran Pemuda

Pemuda mempunyai peran yang strategis bagi pertumbuhan dan kemajuan bangsa Indonesia, ini dikarenakan pemuda mempunyai produktivitas yang sangat tinggi di masyarakat untuk berkreasi, berkarya, dan berinovasi.

Perguruan tinggi di Indonesia, setiap tahunnya meluluskan mahasiswa. Artinya, sudah ribuan hasil penelitian yang dihasilkan oleh pemuda Indonesia. Ini bisa menjadi potensi besar bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang maju.

Melihat di berbagai negara lain, produktivitas suatu negara bisa ditentukan oleh kapasitas dan kemampuan sumber daya manusianya untuk mengembangkan dan mengelola sumber daya alam yang ada di negara tersebut.

Maka dari itu, disamping usaha-usaha pemerintah yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa ini, kita juga perlu mengimplementasikan program-program rekayasa sosial dan teknologi dalam pemberdayaan masyarakat yang selinear dengan sila ke-5.

Program ini dilakukan melalui program transfer teknologi untuk usaha-usaha kecil menengah serta penguatan institusi intermediasi dan diinisiasi oleh pemuda Indonesia.

Sebuah solusi dan peran yang strategis adalah dengan menjadi seorang sociopreneur. Salah satu cara berkontribusi dalam meminimalisir angka kemiskinan yang ada di bangsa ini.

Sociopreneur atau gerakan penciptaan usaha ekonomi sosial ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan sebagai penggerak konsumsi lokal sekaligus meningkatkan ekspor dari sektor agrobisnis, khususnya daerah pedesaan.

Menumbuhkan Jiwa Sociopreneur

Banyaknya hasil penelitian atau riset sebelumnya tentu tidak bernilai ekonomi jika dibiarkan dan tidak ditindaklanjuti. Oleh karena itu, sociopreneur berperan penting dalam mengidentifikasi, penyedia finansial, menyiapkan teknologi dan menumbuhkan kesadaran kolektif dalam bermasyarakat. Langkah ini juga mendukung ide untuk berwirausaha dengan memanfaatkan potensi SDM dan SDA yang dimiliki oleh masing-masing wilayah.

Dalam hal ini, tidak hanya sekedar memanfaatkan limpahruahnya sumber daya manusia dan alam. Namun berorientasi pada pasar, produktivitas, kreativitas sumber daya dan memanfaatkan inovasi teknologi.

Disini dibutuhkan seorang sociopreneur yang mampu mengerahkan masyarakat untuk melakukan perubahan. Maka seorang sociopreneur harus mempunyai jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab untuk terjun langsung di masyarakat.

No more articles