Corona datang seketika dan membuat keramaian dalam geopolitik internasional. Membuktikan kepada kita, bahwa penanganan kesehatan yang berorientasi pada profit tidak mampu memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan bagi setiap orang. Selain itu, negara yang dipandang sebagai entitas yang netral, mulai memperlihatkan keberpihakannya.

Dengan krisis ekonomi, yang mengguncang seluruh dunia, negara-negara yang berpegang pada pasar bebas dan investasi, kelabakan menanggulangi pandemi ini. Lagi-lagi, si miskin jadi korbannya. Dihadapkan untuk memilih mati kelaparan, atau mati karena virus. Tidak luput, petugas-petugas medis di garda depan yang tumbang satu-persatu karena minimnya fasilitas dan alat pelindung diri (APD).

Akhir-akhir ini, mulai marak kasus kriminalisasi dan plot-plot kerusuhan yang sering kita temui di era orde-baru (Orba). Seorang “anarkis” ditangkap, dengan kabar merencanakan penjarahan besar-besaran di pulau jawa. Dengan slogan yang sama disetiap tembok dan setiap lokasi, yang susah dipercaya bahwa ini memang rencana kelompok anarkis di indonesia, yang seperti kita ketahui, kecil-kecil, tak terorganisir, dan terpecah-pecah.

Aneh rasanya jika memang ini adalah ulah sindikat anarkis indonesia. Baru-baru ini juga, seorang pegiat kebijakan publik dan pegiat advokasi legislasi, Ravio Patra, ditangkap atas tuduhan provokasi memancing kerusuhan. Akun WhatsApp-nya, diduga diretas, dan digunakan untuk menyebarkan seruan provokasi yang kurang lebih bertuliskan seperti ini: “KRISIS SUDAH SAATNYA MEMBAKAR! AYO KUMPUL DAN RAMAIKAN 30 APRIL AKSI PENJARAHAN NASIONAL SERENTAK, SEMUA TOKO YANG ADA DIDEKAT KITA BEBAS DIJARAH.”

Tentu kita tidak bisa langsung mengambil kesimpulan tanpa bukti, bahwa ini adalah plot yang dibuat untuk menjustifikasi darurat sipil. Namun, kenapa gegabah melakukan penangkapan kepada Ravio? Ditambah, yang paling mencurigakan, kenapa slogannya bisa sama dengan selogan yang dipakai kelompok “anarkis” tersebut? Sedangkan, Ravio tidak punya track record sebagai seorang anarkis.

Yang lebih buat kita geleng-geleng kepala lagi, tiga aktivis kamisan ditangkap karena dituduh memprovokasi perlawanan  terhadap kapitalis.

Slogan usang gerakan kiri yang terus diulang-ulang.

Apa yang sedang terjadi? Kenapa seketika keadaan negara kita berubah seperti orde baru? Kenapa plot-plot buatan tersebut muncul kembali, dengan pola yang sama seperti orde baru? Yang jelas, yang sama-sama bisa kita ketahui.

Negara, tidak dan tidak akan pernah, berada dalam posisi yang netral. Ditambah hilangnya transparansi, perlemahan terhadap KPK, dan pendiskusian Omnibus Law yang nekat dilaksanakan saat rakyat sedang diguncang pandemi, membuat kita semakin hari semakin takut. Oligarki semakin kuat, dan semakin tak tersentuh. Lingkar kekuasaan semakin tertutup dan teralienasi dari aspirasi masyarakat.

Jika kita masih memasrahkan nasib kita pada moral segelintir representasi tertentu, yang konon “netral,” tidak heran jika perlahan demi perlahan Orde Baru dibangkitkan kembali dengan wajah yang berbeda. Ditengah krisis seperti ini, bisa kita saksikan. Bagaimana negara mulai kehilangan topengnya, dan bagaimana keberpihakannya kepada kelas borjuasi nampak jelas. Krisis ekonomi, memaksa birokrasi yang berfungsi sebagai lobby dari oligarki, untuk mengamankan aset dari dan modal oligarki.

Meskipun itu artinya, merenggut kebebasan rakyat banyak. Saya tidak menganjurkan penjarahan, dan saya tidak menganjurkan kekerasan. Yang saya anjurkan adalah persatuan kelas tertindas ditengah ancaman totalitarianisme abad ke 21. Jaga kawan-kawan kita, perkuat solidaritas kelas tertindas, dan mulai mencari alternatif sistem pemerintahan yang sama sekali baru.

Pada saatnya kita sudah tidak bisa mengandalkan sistem yang sekarang, karena represi dan totalitarianismenya, kita sudah harus siap menawarkan solusi sistem pemerintahan yang baru lewat perubahan yang fundamental. Kawan-kawan, sekali lagi saya ingatkan, ancaman kebangkitan orde baru bukan cuman bualan. Reformasi, telah berulang kali dikorupsi. Dan sekarang adalah ancaman puncaknya.


Syarif, kontributor

No more articles