Adu Argumen? Sebuah Pergumulan Jalan Bercabang
Ilustrasi. Journal/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Ibu. Setelah dia pergi, tak kan ada lagi pulang ke tempat yang mana dulu kusebut sebagai rumah. Tak kan ada lagi obrolan hangat penuh tawa di kala surya menyapa. Tak kan ada lagi berbagi kisah bersama lentera. Tak akan. Tak akan pernah ada lagi.

Semua kisah kan ku rangkai dalam hati dan tersimpan rapi di sana. Aku tak akan pernah coba untuk melupa, namun tak jua untuk mengingat. Cukup tertata rapi dan tak kan pernah ku ungkap. Menutup rapat-rapat kepedihan, agar tak satupun manusia  melihatnya.

Harapanmu akan selalu aku perjuangkan. Ajaranmu akan selalu aku terapkan. Tak kan pernah ada yang layak menggantimu. Kamu menepati hati tanpa mengasingkan yang lain.

“Bu, aku kan pergi jauh dari tanah kelahiran. Bukan karena aku membencinya, namun karena setiap sudutnya mengingatkanku padamu. Suatu saat aku kan mengunjungimu, namun tak untuk waktu dekat,” ucap terakhirku di atas pusaranmu.

Aku berusaha tak ungkapkan kesedihan, bu.  Aku berusaha tuk tak keluarkan air mata di hadapan manusia. Apakah ibu tahu? Aku berhasil melakukannya. Aku berusaha menjadi harapan-harapan yang ibu harapkan.

Namun, benteng-benteng kokoh nan tinggi yang kubangun dalam hati nyatanya hancur tatkala lentera menemani bersama dinginnya angin yang menusuk tulang, bu. Semua selalu luluh lantah. Namun kembali kubangun dengan sungguh di paginya agar tak satupun mengetahui. Selalu berulang. Seperti itu. Seperti paradoks.

Beberapa teman terkadang menanyakan kabarmu, bu. Tanpa tahu bahwa sebenarnya aku pun tak mengetahuinya. “ibuku baik-baik saja,” jawabku pada mereka. Aku harap, ibu memang baik-baik saja di sana.

“dek, kapan pulang? Ga kangen ibu?” selalu saja.

“kangen, cuma belum bisa pulang,” jangan tanyakan lebih jauh, aku mohon.

“kenapa, kok belum bisa? Lagi sibuk ya? Pulanglah sesekali dek, doakan Ibu. Jangan sibuk ngejar duniawi terus,” sungguh, aku teramat merindu. Namun tak mampu untuk bertemu. aku hanya akan melihat pusarannya tanpa bisa memeluknya. Aku tak mau perlihatkan kepedihan dalam, aku tak mau meneteskan air mata di hadapan manusia. Bukan maksud hati untuk mengejar dunia. Ini adalah usahaku agar tak berlarut dalam duka.

“doa lewat sini bisa kok hehehe,” sudah, cukup.

Telepon dimatikan tanpa salam seperti dulu. Sudah. Sudahlah.

Semua memang lebih baik tatkala Ibu ada. Namun, sudahlah.

Semua sapa hangat telah tenggelam seiring kabar yang jarang aku berikan. Tak masalah bukan? Ya, sepertinya tak masalah. Ya, pasti tak kan menjadi masalah. Aku hanya perlu waktu sedikit lebih lama untuk menenangkan diri.

Semua akan baik-baik saja, meski akan lebih baik jika ibu ada. Namun, tak masalah. Semua akan menjadi baik kembali. Sungguh. Tentu saja.

Esok, kan lebih baik. Ya. Tentu saja. Aku akan menenangkan diri. Aku pasti akan kembali. Pasti.

Orang-orang hanya tak tahu tentang kepedihan hati yang kusimpan sendiri. Namun dengan tanpa hati, mereka asal memvonis. Tak apa. Tak masalah. Ibu sudah mengajariku menjadi kuat. Tentu, aku bisa menghadapinya.

Aku akan berusaha menenangkan diri. Beberapa mungkin akan menganggapku mati ditelan bumi. Namun, sungguh. Aku hanya perlu waktuku sendiri.

Mungkin aku memerlukan waktu beberapa tahun lagi. Atau mungkin, aku kan kembali tatkala jiwa telah pergi dari raga ini. Agar aku dapat langsung bertemu ibu. Agar aku dapat memeluknya dengan erat seperti dulu.

Oleh: Dina Fadhilah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email