Login With Google

Ku sampaikan rangkaian kata yang telah ada dalam benak sejak lama. Agar bebannya berkurang, agar kepala ini tak lagi sakit di setiap malam. Diketik saat dini hari datang, dengan sesak, dan isak yang tertahan dengan kuat.

Dengan segala hormat, dan tak ada maksud tuk lancang dalam bersikap. Teruntuk Tuan nan jua Puan yang hamba hormati. Dengan penuh rasa sedih, hamba tuliskan ini.

Seorang perempuan yang telah relakan rahimnya tuk hamba tempati dulu. Seorang perempuan yang bersikeras tuk sisihkan makanannya tuk hamba sesap. Seorang perempuan yang dengan lemah-lembut ajarkan tutur nan jua tindak. Perempuan itu sedang berduka. Terlebih lagi, pasangannya tak kunjung pulang.

Agaknya Tuan melupa, bahwa tempat tinggal hamba dalam bahaya. Tuan lari terbirit-birit bagaikan anjing mendengar petir. Mengejar, dan menggigit hamba yang tak pandai memahami. Hamba yang tak secerdas Tuan, bebal, dan bodoh ini mengadu.

Puan, cobalah segenggam nasi yang hamba makan sesekali ini. Ini Puan, hamba siapkan segelas air yang hamba rebus sendiri. Bermalamlah Puan, kan kau temui dinginnya ubin yang gigilkan raga. Hamba yang tak secerdas Puan, bebal, dan bodoh ini mengadu.

Hamba tak mengenal bijak dalam kebijakan yang diambil. Hamba tak mengerti banyak hal, hamba berusaha memahaminya. Hamba berusaha, namun tak dapat hamba pahami. Berujung dengan lontaran; sabar, bersyukurlah, dan Tuhan yang maha adil.

Tuan dan Puan yang tertidur di ranjang empuk, nan jua selimut hangat. Bagaimana jika Tuhan sendiri yang langsung berfirman? Memberi titah pada hamba tuk mengadu bahwa ini tak adil?

Ibu-Bapa susah payah mencarikan butuh hamba tuk tinggal di perantauan. Sampai tangisnya terisak di sepertiga malam milik Gusti. Gusti tak pernah ingkar janji, bukankah Gusti maha baik?

Tuan dan Puan yang dapat memasak beras tiap harinya.”Sendiko dawuh” tak dapat hamba lakukan tuk kebijakan yang ditetapkan saat ini. Sebab banternya biaya, tak sebanding dengan hak yang seharusnya didapat.

Hamba temui Si Culas bermuka dua. Hamba temui Si Bangsat yang menjual janjinya. Hamba temui Si Bandit yang mencekik. Hamba temui para bajingan itu tertawa terbahak-bahak.

Sampailah pada penutup yang kan terus berlanjut. Proletar ini tak mengiba, hanya sedang menagih haknya.

Hidup segan, mati pun tak enggan.

No more articles