Sastra

Trilogi Pra-Revolusi

Trilogi Pra-Revolusi. Repro/Bayu Utomo

Malam Ini Malam ini akan ku kabarkan Jeritan-jeritan yang mengemis keadilan Rintihan yang tak kunjung usai merong-rong Kalam-kalam yang tak pernah terdengar Malam ini akan ku kabarkan Berita-berita kehilangan Dan egomu meminta kebebasan untukmu sendiri Dan ketakutanmu membutakanmu Malam ini juga akan ku kutuk-sumpahi Mereka yang masih berdalih untuk berpaling dari keadilan Untuk mata-mata yang …

Trilogi Pra-Revolusi Selengkapnya »

Sebenarnya, Apa yang Terjadi?

Sebenarnya, Apa yang Terjadi. Foto Journal/Bayu

Kemarin, kudapati kabar beberapa kawanku luka-luka, saat mereka coba tunjukkan keresahan. Ada yang dilempar batu, dipukul, ditendang, bahkan ada yang terkena gas air mata. Kemarin juga, kudapati kabar bahwa beberapa kawan mati tertembus besi panas, oleh orang-orang berseragam. Kulihat ayahnya pulang, lalu tangis lara tak dapat dihindarkan. Sebenarnya apa? Keresahan apa yang membuat mereka nekat …

Sebenarnya, Apa yang Terjadi? Selengkapnya »

Kotaku Tak Layak Huni?

Kotaku Tak Layak Huni

Tak tertampik, jalanan memang penuh sampah. Hari ini, bertemu polusi lebih mudah daripada menemuimu. Tak perlu mencari kemanapun, ‘ia’ ada dimana-mana. Anak-anak rusak, terus mengendus sesuatu di balik kaos kedodorannya, kadang mereka frontal menggunakan plastik. Mengerti apa yang mereka endus, kan? Klise. Hidup di kota memang sangat keras. Tapi apa kalian mengerti mengapa mereka lebih …

Kotaku Tak Layak Huni? Selengkapnya »

Adu Argumen? Sebuah Pergumulan Jalan Bercabang

Adu Argumen? Sebuah Pergumulan Jalan Bercabang

Kalau bisa berdiri sendiri, untuk apa berdampingan? Kalau dapat melangkah bersama diri, untuk apa membersamai yang lain? Pernyataan diri yang dibalut kata tanya. Mungkin bentuk kewaspadaan, atau mungkin juga kepercayaan untuk melangkah tanpa perlu yang lain. Beberapa memandang diri penuh keegoisan, sombong, congkak, dan beberapa gel var yang mungkin cocok ‘tuk jadikan nama belakang. Saya …

Adu Argumen? Sebuah Pergumulan Jalan Bercabang Selengkapnya »

Berbenah Lagi

berbenah lagi

Aku muak dengan semua ini. Harap-harap dan segala ambisi, nyatanya hanya sampai di ujung bibir. Katanya, ingin melakukan yang terbaik. Katanya, mau berusaha sekuat tenaga, sampai di titik darah penghabisan. Katanya. Cihh… Hanya membara di awal saja. Sekarang? Semua hangus termakan asmara tiada guna. Katanya merubah nasib. Katanya mau berguna bagi bangsa dan negara. Bahkan, …

Berbenah Lagi Selengkapnya »

Trilogi Puisi Puing-Puing Asa Terakhir

Trilogi Puisi Puing-Puing Asa Terakhir

/1/KOBARAN Rangkaian diksi dikobarkan Jiwa kami telah terbakar api semangat juang Kami tak kan gentar melawan Semua telah dipersiapkan Kami melangkah pasti dengan tujuan Kemerdekaan dipertaruhkan Kami pasti bisa melawan! Persetan dengan rudal-rudal mereka Langkah mantab kami tunjukkan Doa dan harapan tak henti dilambungkan Kami pasti menang! Negeri kami pasti merdeka! Terik surya tak kan …

Trilogi Puisi Puing-Puing Asa Terakhir Selengkapnya »