Login With Google

Pariwisata dapat merusak lingkungan dan mengusir penduduk setempat. Saatnya memikirkan kembali tujuan perjalanan.

Bali berada di tengah krisis ekologis. Setengah dari sungai di pulau Indonesia telah mengering. Pantainya sedang terkikis. Pada tahun 2017, para pejabat menyatakan “darurat sampah” melintasi bentangan pantai Bali sepanjang enam kilometer. Di puncak pembersihan, ratusan petugas kebersihan membersihkan 100 ton puing dari pantai setiap hari.
Penyebabnya? Terlalu banyak turis—yang terus berdatangan. Tahun ini, kementerian pariwisata Indonesia berharap Bali menarik 7 juta wisatawan asing, ke sebuah pulau yang hanya memiliki 4 juta penduduk.

Apakah kita ingin lebih banyak turis? Mungkin tidak,” kata aktivis komunitas Bali Viebeke Lengkong tahun lalu. “Ini adalah pertanyaan tentang jenis layanan apa yang dapat kami sediakan bagi jutaan wisatawan. Bali berada di tengah krisis air. Bali mengering.”

Ini mencapai titik klimaks. “Terakhir kali saya pergi, saya bersumpah tidak pernah lagi,” kata seorang teman baru-baru ini kepada saya, mengerikan dengan jumlah orang dan jumlah sampah yang dilihatnya. Pada liburan berikutnya, ia mengunjungi pulau kecil yang relatif tidak dikenal di lepas pantai Bali, berpikir itu akan lebih tenang. Ternyata tidak. Wisatawan tiba dengan muatan perahu di pantai pulau yang kecil.Bali adalah salah satu di antara banyak tempat untuk merasakan efek buruk dari pariwisata massal. Thailand menutup seluruh pulau karena sampah dan sisa makanan dari turis yang menghancurkan ekosistem pulau itu. Di Venesia, Italia, kapal pesiar kolosal merobek kota dan opsi Airbnb yang terjangkau mendorong penduduk setempat untuk keluar dari rumah menuju pasar. Di seluruh Spanyol, grafiti anti-pariwisata dapat ditemukan di Barcelona, ​​San Sebastian, Bilbao, dan Mallorca, dalam grafiti tertulis “tourism kills”, “tourists go home” dan “why call it tourism season if we can’t shoot them?”Karena perjalanan menjadi lebih mudah dan lebih murah, sektor pariwisata telah meroket. Pada tahun 1996, wisatawan melakukan 560 juta perjalanan ke luar negeri; pada 2016 telah meroket naik lebih dari dua kali lipat menjadi 1,2 miliar. Di seluruh dunia, pariwisata mendorong degradasi lingkungan, biaya hidup setinggi langit, dan bahkan penggusuran paksa.

Ini mengarah pada pertanyaan radikal: haruskah kita berhenti bepergian?

Ketika pariwisata mendominasi ekonomi, sebagian pemerintah lebih memprioritaskan turis daripada warganya sendiri. Di seluruh dunia, orang-orang diusir dari rumah mereka untuk memberi jalan bagi perkembangan pariwisata. Tahun lalu di Tanzania, diperkirakan 185 rumah Maasai dibakar habis oleh pihak berwenang yang “mengoperasikan berburu wisatawan”, membuat 6.800 orang kehilangan tempat tinggal. Apa yang disebut “etika perjalanan” tidak selalu memberikan solusi; dikatakan bahwa ekowisata di Tanzania berkontribusi terhadap masalah ini, karena dolar pariwisata memberikan dampak insentif untuk mengubah padang rumput Maasai menjadi lahan safari.

Secara global, perpindahan untuk pengembangan pariwisata—termasuk hotel, resor, bandara, dan pelabuhan pesiar—merupakan masalah yang terus meningkat. Di India, puluhan ribu penduduk asli diusir secara ilegal dari desa-desa di dalam cagar harimau.

Itulah sebabnya Pengadilan Internasional terhadap Penggusuran atau International Tribunal on Evictions (ITE), sebuah acara tahunan yang membahas dan mengusulkan solusi untuk penggusuran paksa, pada 2017 berfokus mengenai penggusuran yang disebabkan oleh pariwisata di India, Sri Lanka, Argentina, Kenya, dan Italia. Menurut ITE, pihak berwenang jarang mempertimbangkan bagaimana pariwisata mempengaruhi warganya; sebaliknya, mereka “sering mengeksploitasi wilayah mereka sebagai prioritas untuk mempromosikan pariwisata, yang dipandang sebagai mesin pembangunan dan pendapatan untuk menyembuhkan defisit anggaran, sambil mengabaikan hak asasi manusia yang disebabkan oleh penggusuran.”

Pariwisata juga dapat berdampak buruk pada iklim dan ekosistem setempat, khususnya di tempat-tempat yang sudah rentan terhadap perubahan iklim. Di Malaysia, misalnya, pengembangan pantai—sebagian besar didorong oleh pariwisata—telah menghancurkan setengah dari hutan hujan Pulau Langkawi dan merusak hutan bakau, yang tidak hanya menyimpan lebih banyak karbon daripada kebanyakan hutan tropis, tetapi juga menyediakan garis pertahanan pertama melawan tsunami.

Ketika turis mendominasi ekonomi, beberapa pemerintah memprioritaskan turis daripada warganya sendiriPada akhirnya, hanya ada satu cara pasti untuk menghindari jadi bagian dari masalah pariwisata: Jangan pergi

Tidak heran bahkan mereka yang berada dalam bisnis penjualan paket wisata mendesak wisatawan untuk mempertimbangkan kembali mengunjungi tujuan-tujuan tertentu. Peresmian Fodor pada 2017 bertema No List memperingatkan pembaca ke tempat-tempat tertentu karena bahaya yang mereka (wisatawan) timbulkan: New Delhi berada dalam daftar karena kabut asapnya, Miami Beach karena virus Zika. Daftar 2018 mengambil cara yang berbeda, memperingatkan wisatawan bahwa mereka menimbulkan bahaya ke tempat-tempat seperti Galapagos, Tembok Besar Cina, dan Venesia.

Beberapa turis mulai bergulat dengan dampak negatif dari liburan mereka. Dalam sebuah studi tahun 2016, 60 persen pelancong Amerika mengatakan mereka merasa bertanggung jawab untuk memastikan perjalanan mereka tidak membahayakan orang, lingkungan, atau ekonomi tujuan. Ekowisata, di mana wisatawan berusaha melestarikan lingkungan alam yang mereka kunjungi, telah meningkat di negara-negara seperti Kosta Rika. Sementara itu, Voluntourism (gabungan dari dua kata, volunteer dan tourism yang bermakna melakukan kegiatan pariwisata sambil menjadi sukarelawan) memungkinkan wisatawan untuk berkesempatan “memberi kembali” saat mereka berlibur. Misalnya, program di Kamboja menawarkan peluang sukarela di panti asuhan.

Meski demikian, bentuk-bentuk pariwisata semacam ini dapat membahayakan. Di Kamboja, pariwisata di panti asuhan memberikan motif keuntungan yang mengubah anak-anak menjadi komoditas. Antara 2005 hingga 2015 jumlah panti asuhan Kamboja meningkat 60 persen, meskipun faktanya sekitar 80 persen anak-anak Kamboja di panti asuhan memiliki setidaknya satu orang tua yang masih hidup.

“Tidak lagi mungkin untuk menepis kritik tentang ledakan pariwisata sebagai keangkuhan elit, wisata budaya kelas atas versus pengunjung berkaos oblong yang di peras di bus wisata”, tulis Elizabeth Becker di The Guardian. Apakah Anda bepergian dengan kapal pesiar atau tuk tuk (sejenis bajaj di Thailand), apakah Anda sedang backpacking atau berpartisipasi dalam tur butik: itu semua adalah bagian dari masalah, lanjutnya. “Dimensi industri telah tumbuh begitu luas dengan begitu cepat sehingga telah menjadi masalah serius dari globalisasi, yang berkaitan dengan masyarakat yang rentan karena pabrik-pabrik yang tutup sebab rust belts Amerika dan Inggris.”

Jadi, mungkinkah melakukan perjalanan ke mana saja dan merasa baik-baik saja tentang hal itu?

Beberapa negara telah menemukan cara untuk melakukannya, terutama dengan membatasi jumlah dan jenis wisatawan yang masuk. Bhutan mempelopori pendekatan “high-value, low-impact” untuk pariwisata, yang berarti bahwa sebagian besar turis asing harus menghabiskan minimal $200 per hari di negara itu. Palau dan Botswana sejak saat itu meniru model ini. Sementara itu, situs Warisan Dunia UNESCO di seluruh dunia diharuskan memiliki rencana untuk mengelola pariwisata. Di Malaysia, misalnya, kota Warisan Budaya Melaka dan George Town mendorong partisipasi penduduk dalam rencana pengelolaan pariwisata mereka dan membentuk komite untuk menciptakan visi bersama untuk pariwisata di kota-kota mereka. Penduduk juga terlibat dalam rencana untuk menggunakan kembali bangunan tradisional dengan cara yang akan melestarikan budaya dan sejarah kota mereka sambil memberikan keuntungan finansial kepada masyarakat setempat.

Walau begitu tidak ada solusi yang sempurna. Hampir setengah dari 229 situs natural UNESCO, yang meliputi taman nasional dan suaka margasatwa, tidak memiliki rencana pengelolaan pariwisata aktif. Dan bahkan mereka yang memiliki rencana tidak selalu mengikuti mereka. Aktivis di George Town menuduh bahwa pemerintah belum menegakkan aturan yang ditetapkan dalam rencana pengelolaan konservasi. Pembangunan dan renovasi ilegal telah menjadi hal biasa, sebagian didorong oleh permintaan wisatawan akan kafe dan hotel kelas atas. Dan rencana pengelolaan pariwisata Bhutan sengaja dikecualikan bagi orang-orang yang tidak mampu membayar tarif yang dipatok pemerintah.

Pada akhirnya, hanya ada satu cara pasti untuk menghindari kontribusi pada masalah pariwisata: jangan pergi. Tetapi dengan asumsi itu bukan pilihan, ada cara untuk mengurangi jejak langkah Anda. Seperti yang disarankan Fodor, jangan pergi ke tempat-tempat yang secara eksplisit tidak menginginkan turis, seperti Venesia dan Galapagos. Jangan pergi ke tempat-tempat dengan ekonomi yang terlalu bergantung pada pariwisata, seperti Bali dan Aruba. Jangan pergi ke tempat-tempat kecuali Anda memiliki koneksi ke warga di sana, saran dari travel writer Bani Amor. Dan jangan bepergian untuk menjadi sukarelawan atau mencari pengalaman yang mengubah hidup di luar negeri dengan mengorbankan biaya eksotis “lainnya”; peluang seperti itu ada namun lebih dekat dengan rumah.

Mengesampingkan tempat dan jenis perjalanan seperti itu tidak membatasi seperti yang terlihat. Ini berarti mencari peluang untuk pariwisata yang lebih bermakna yang tidak merusak lingkungan tempat atau menyebabkan kerugian bagi penghuninya. Kunjungi tempat-tempat yang terhubung dengan keluarga atau sejarah pribadi. Bepergian ke tempat-tempat yang kurang dikunjungi, di mana lebih mudah untuk mengembangkan hubungan di luar “gelembung” turis. Lihatlah tempat-tempat di negara sendiri.

Seperti yang diakui Amor, tidak mungkin menjadi pelancong yang sempurna. Tetapi mengidentifikasi tempat-tempat yang tidak dikunjungi mungkin merupakan langkah pertama untuk menjadi pelancong yang lebih baik.[]

___________

Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di situs daring brightthemag.com berbahasa inggris dengan judul asli “The Next Trend In Travel Is… Don’t” oleh Allison Jane Smith. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Adi Bayu Utomo dengan judul “Tren Selanjutnya Dalam Wisata Adalah… Jangan Bepergian”.

No more articles