Trilogi Puisi Puing-Puing Asa Terakhir

Trilogi Puisi Puing-Puing Asa Terakhir
Ilustrasi. Journal/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

/1/KOBARAN

Rangkaian diksi dikobarkan

Jiwa kami telah terbakar api semangat juang

Kami tak kan gentar melawan

Semua telah dipersiapkan

Kami melangkah pasti dengan tujuan

Kemerdekaan dipertaruhkan

Kami pasti bisa melawan!

Persetan dengan rudal-rudal mereka

Langkah mantab kami tunjukkan

Doa dan harapan tak henti dilambungkan

Kami pasti menang!

Negeri kami pasti merdeka!

Terik surya tak kan jadi penghalang!

Kami pasti bisa!

/2/REDUP?

Kawanku tertembak mati

Besi panas menembus diri

Aku tergeletak di tengah pertempuran

Aku masih bisa bernapas

Seseorang mendekatiku

Menyeret kaki kiriku tanpa memedulikan keadaanku

Besi panas bersarang di sana

Aku masih akan terus berjuang.

Kesakitan membuat kesadaranku menghilang

Aku tersadar dalam ruang senyap

Ditemani lampu pijar di depan kepala

Tubuh terikat pada tiang

Seseorang datang membawa belati tajam

Menyayat tubuh dengan wajah bingas

Lampu ia hancurkan

wajahku tak terhindar dari serpihannya

/3/MATI

Aku digerogoti masa tanpa hentinya

Tercabik tanpa memberi jeda mempercayai asa

Perlahan ragaku melemah, pandanganku kabur, dan tulang-tulang terasa patah

Aku ditemani senyap tanpa cahaya

Dengan danur yang menusuk indra penciuman

Aku tak lagi dapat mendengar suara

Telingaku mulai mengeluarkan cairan kental bernama darah

Apakah ini akhir dari segala kisah seorang prajurit sepertiku?

Atau mungkin menjadi kisah awal kemenangan negriku?

Aku tak tahu

Kakiku terasa dingin, dan aku tak lagi dapat menggerakannya

Dadaku mulai terasa sesak

Napasku mulai tercekat

Sepertinya ini waktunya

Sakit!

Ini terlalu menyakitkan!

Sebentar lagi saja…

Cukup!

Aku pun melihat ragaku yang tak berjiwa di sana.

 

Oleh: Dina Fadhilah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email