Ulasan Singkat Game of Thrones, Serial Rasa Film!

Ulasan Game of Thrones
Ilustrasi. Journal/Putri Abdi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Acara Televisi yang sedang menjadi perbincangan kaum milenial ini cukup menarik untuk diulas. Euforia Game of Thrones (GoT) di Indonesia sendiri tidak sebesar Harry Potter, Marvel maupun DC. Banyak kemungkinan hal tersebut terjadi, bisa saja karena GoT adalah acara televisi dan ketika musim pertama penayangan GoT, Indonesia belum punya cukup akses untuk mengikuti tiap episodenya.

Selain akses yang belum luas, rentang usia yang dinyatakan boleh menonton acara televisi rasa film ini tidak banyak, ya, karena serial ini hanya untuk usia 18 tahun keatas. Apalagi ditayangkan di negara dengan standar kultural kuat seperti Indonesia. Hmmm

Durasi singkat untuk ukuran film

Game of Thrones sendiri memiliki total 73 episode dari total 8 musim, dimana masing-masing musim terdiri dari 10 episode kecuali musim 7 yang hanya 7 episode dan musim terakhir dengan 6 episode saja. Dilihat dari durasi, untuk para penggila film seperti saya ini merasa durasinya cukup singkat, kenapa? Awal episode kita hanya disuguhi dengan durasi 50 menit dan penambahan durasi tidak lebih dari 15 menit di episode terakhir.

Mengingat durasi yang singkat tersebut, ditambah dengan waktu perilisan per episode yang hanya sepekan sekali, durasi tersebut terasa sangat kurang. Namun jika kalian menonton secara terus menerus (baca:maraton) saya rasa aman-aman saja, halangan diatas dapat sedikit berkurang salah satunya karena kalian bisa memilih sendiri jumlah episode perharinya.

Berbicara mengenai jalan cerita GoT, sebenarnya benang merah dari acara televisi GoT ini mengenai perebutan tahta kerajaan yang disebut dengan Iron Thrones, sebuah kursi milik pewaris sah sang raja yang dibuat dari pedang para ksatria hebat di dunia Game of Thrones. Iron Thrones sendiri diceritakan berlokasi di Ibu kota  wilayah Westeros, yakni di kota Kings Landing. Raja yang menduduki Iron Thrones ialah Raja penguasa 7 kerajaan yang ada di Westeros.

Sifat karakter begitu hidup

Melihat dari konsep ceritanya yang terkesan begitu wah!, sebenarnya hanya seperti sinema elektronik (sinetron) kolosal televisi swasta namun dengan penulisan yang sangat kompleks dan susah untuk ditebak. Cerita Game of Thrones sendiri merupakan adaptasi dari novel karya George R. R. Martin.

Berbeda dengan film fantasi lainnya dimana tokoh protagonis dan antagonis terlihat begitu kentara, dalam serial ini masing-masing tokoh begitu nyata dengan sifat karakter yang tidak menekankan protagonis maupun antagonis, melainkan lebih ke sifat karakter yang abu-abu.

Dengan sifat abu-abu tersebut, penonton seakan dilibatkan masuk ke dalam cerita GoT dan ikut dibuat cemas. Untuk kamu yang mungkin belum pernah menonton atau terlewat dalam salah satu episode GoT ini, saya sangat menyarankan kamu untuk menontonnya dari musim pertama. Namun ingat, jangan sekalipun melewatkan satupun episode GoT, karena tiap episodenya saling berkaitan satu dengan lainnya.

Minim Stuntman

Aktor dan aktris yang memerankan setiap karakter bekerja dengan sangat baik. Pasalnya, cukup banyak adegan ekstrem yang telah diperagakan. Di benak kita barangkali akan beranggapan bahwa beberapa adegan pasti menggunakan peran pengganti atau stuntman. Sisi menarik dari GoT ialah aktris maupun aktor dalam serial televisi ini justru memerankan adegan-adegan yang terbilang ekstrem secara langsung dan tanpa stuntman. Namun, tentu sebelumnya mereka telah mendapat pelatihan dan menggunakan standar keamanan yang ketat.

Alasan mengapa acara televisi GoT mendapatkan pembatasan usia menonton, tidak hanya karena GoT dipenuhi dengan adegan berkelahi, serial ini juga diwarnai dengan adegan ranjang. Namun jangan salah, tidak jarang dalam sebuah adegan ranjang justru terdapat dialog penting dan kerap kali menjadi petunjuk pemecahan konflik.

Banyaknya jumlah karakter dalam cerita ini menuntut bagian casting menilik pemeran lebih teliti agar dapat menemukan aktor dan aktris yang tepat. Sisi kreatif lainnya dari sang penulis naskah dapat teruji dari setiap karakter yang memiliki sisi keunikannya masing masing.

Karakter Brienne contohnya, ia diceritakan dengan karakter wanita berbadan besar yang sangat setia dengan ratu dan rajanya. Sansa Stark yang diperankan oleh Sophie Turner lain lagi, ia diceritakan sebagai gadis berparas menawan yang dibutakan oleh cinta. Sedangkan Arya Stark, gadis kecil yang bercita-cita menjadi ksatria dan tidak pernah menginginkan kedudukan sebagai lady. Melisandre, penyihir yang memiliki kemampuan untuk menghidupkan orang mati. Cersei Lannister menjadi wanita keji yang selalu dipenuhi rasa amarah dan dendam namun juga merupakan ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Daenerys Targaryen, si tokoh utama yang justru tidak terlalu dominan di musim pertama. Ke-enam karakter tersebut hanyalah sebagian karakter wanita dengan keragaman sifat dan keunikannya masing-masing. Hal itu membuktikan tingkat kreativitas si penulis naskah yang begitu cekatan.

Visual Effect jadi daya tawar

Hal yang membedakan acara televisi Internasional dengan sinetron kolosal lokal terlihat dari segi visual effect yang cukup berat dan sangat nyata, terutama pada karakter-karakter fantasi yakni beberapa ekor naga. Melihat dari cuplikan dibalik layar (baca:Behind The Scene) yang resmi ditayangkan oleh Home Box Office (HBO) selaku jaringan penyiar, proses penggarapan serial televisi ini bahkan menggunakan special effect untuk membangun benteng, kota, hutan dan lain-lain. Tata rias dan kostum para pemain sangat epic. Tata rias yang saya rasa cukup menarik perhatian yakni darah yang bercucuran pada tubuh para pemain saat adegan gelut, atau tokoh fantasi The Night King yang badannya terbentuk dari suatu seperti serpihan es, bagaimana dengan mata Brandon Stark yang dapat berubah menjadi putih dan Ser Gregor dengan penampilan yang sangat menyeramkan, tata rias yang begitu mengagumkan. Mengenai kostum jelas tidak usah diragukan lagi karena penggarapannya sangat profesional.

Dari kelebihan dan kemewahan acara televisi GoT, ada satu hal yang sangat disayangkan, yakni terdapat kesalahan kecil yang mengecewakan penonton. Tepatnya di musim terakhir, crew meninggalkan gelas kopi di meja benteng tua dan kejadian tersebut berada dalam tangkapan layar (in frame) hingga menggemparkan jagat pecinta Game of Thrones. Namun dari sedikit pengalaman menonton Game of Thrones ini, adakah dari kalian yang juga ingin berbagi pengalaman menonton dan berdiskusi bersama? Kalau ya, mari kita lanjutkan di kolom komentar.

GenreFantasi

Drama serial

PembuatDavid Benioff

D. B. Weiss

Diangkat dariA Song of Ice and Fire
oleh George R. R. Martin
NegaraAmerika Serikat
Jumlah musim8
Jumlah episode73

Oleh: Putri Abdi Negari

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email