Login With Google

Universitas Amikom Yogyakarta yang diwakili oleh tim Cylo E-Sport x Partai Ketawa berhasil meraih juara satu dalam PUBG Mobile Kampus Championship (PMCC) yang dilaksanakan di Mall Taman Anggrek Jakarta (24/3/2019).

Tim yang diperkuat oleh Rizki Fajarista (Ipatt), M. Tri Maulana Yusuf (Moonela), Rizky Andriansyah (Virtuozos) dan Martin Prayogi Sirait (Slayer) berhasil meninggalkan jauh lawan di bawahnya, dengan jarak 85 poin dari Universitas Sam Ratulangi Manado yang menempati posisi dua klasemen.

Berikut ini adalah wawancara eksklusif reporter lpmjournal.id dengan Ipatt.

Kapan awal bermain PUBG Mobile?

Awalnya saya bermain PUBG PC sudah sejak satu setengah tahun yang lalu. Kemudian karena tidak ada kompetisi (PUBG PC), saya memainkan PUBG Mobile setelah game tersebut rilis, sekitar setengah tahun yang lalu.

Kapan awal tim ini terbentuk?

Awalnya pemain yang ada tim ini mengikuti PMCC yang diadakan kampus (Amikom Gamers Community). Itu semuanya mahasiswa Amikom. Setelah itu kita sering main bareng, atur strategi. Nah, disinilah mulai terbangun kemistri,  sampai pada akhirnya kita ikut perlombaan nasional tersebut. Alhamdulillah menjadi juara.

Dapat informasi perlombaan ini (PMCC) dari mana?

Awalnya ngikutin kompetisi di kampus, ikut turnamen lokal Jogja, dapat informasi dari Instagram. Yang kemudian dibantu AGC untuk mengikuti turnamen PMCC itu.

Untuk kendala itu sendiri, ada atau tidak?

Sebenarnya saat awal perlombaan yang kampus itu ada kendalanya, mulai dari sinyal yang memang ini kan game online. Dan akhirnya kita menang bisa mewakili kampus ke ajang nasional.

Kalau untuk masalah kendala perkuliahan, sebenarnya saya tinggal skripsi, jadi agak tenang. Tapi ada salah satu pemain kita yang memang dia masih mahasiswa baru, jadi sering tanya tugas, sering tanya kuliahnya gimana nih?, Ya aku mencoba untuk menenangkannya.

Ada perbedaan atau tidak, ketika datang ke kampus setelah juara ini?

Bagi kita sih biasa saja, tapi banyak juga yang lain mereka merasa bangga. Kami berhasil membuktikan bahwa, ‘ini loh Amikom’, bukan hanya berprestasi di bidang akademik.

Apa sih strategi yang digunakan?

Intinya semua pemain itu pasti bisa nembak, artinya mereka pasti bisa main game ini. Ya mungkin ada strategi tersendiri di masing-masing pemain, tapi faktor lag itu memang turunnya dari Tuhan. Jadi keberuntungan harus kita minta dari Tuhan, pastinya ibadah.

Peran kampus dalam mendampingi kalian ketika mengikuti kompetisi ini, gimana?

Grand Final di hari pertama belum dilirik, ‘Ya udah nggak apa-apa’, karena memang awalnya harus berprestasi dulu. Ketika hasil di hari pertama memuaskan, akhirnya dilirik dan di hari kedua, baru diperhatikan.

Harapan kedepannya?

PMCC kan agenda tahunan. Saya berharap ke depannya ada anak-anak yang mengikutinya, mungkin dari komunitas ini (AGC). ini sebagai ajang untuk membuktikan bahwa mahasiswa yang mungkin kurang di bidang akademik, bisa berhasil di non akademik.

Mungkin pesan untuk pihak lembaga agar tidak terlalu mengharuskan mahasiswanya berprestasi di bidang akademik tapi ‘non’ juga.

 

Reporter : Ersla, Tarisa, Eko

Editor : Ate

No more articles